Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak, DP2KBP3A, Alta Fatra. (Foto: Ist)
Rizki Ramadhani

BANGKA BARAT, iNews.id - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Bencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Bangka Barat sepanjang periode semester I tahun 2022 telah menerima 10 laporan kasus perempuan dan anak. Laporan didominasi kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak.

"Tahun ini kebanyakan kasus anak, yaitu dua kasus perempuan dan delapan kasus anak. Pelecehan seksual pada anak paling banyak, kebanyakan dari orang terdekat," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak, DP2KBP3A, Alta Fatra, Selasa (9/8/2022). 

Data DP2KBP3A Bangka Barat mencatat, laporan yang diterima tahun 2017 terdapat 19 kasus, 2018 ada 35 kasus, 2019 ada 12 kasus, 2020 ada 22 kasus, dan terakhir di tahun 2021 sebanyak 18 kasus.

"Trennya memang naik turun. Tapi kita lihat di 2020 waktu naiknya, ketika awal-awal Covid-19 kita lihat kasusnya naik. Dari 12 kasus hingga 22 kasus ditahun 2020 itu. Banyak faktor, ketika anak banyak yang tidak sekolah itu salah satu faktor naiknya kasus tersebut," ucapnya. 

Alta meminta masyarakat Bangka Barat tidak takut untuk melapor apabila terjadi pelecehan seksual atau kekerasan. Sebab, menurutnya pihak korban maupun pelapor akan dilindungi sesuai dengan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

"Tren kasus ini seperti gunung es, mungkin keliatan kecil laporan kita tapi yang di bawah banyak faktor. Salah satunya kasus ini masih dianggap sebagai aib. Apalagi dalam keluarga ya, mereka tidak mau melapor. Kebanyakan mereka menyelesaikan sendiri, tanpa melapor ke kita," katanya. 


Editor : Ikhsan Firmansyah

BERITA TERKAIT